September 30, 2013

1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkanacuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”. Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram,ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. “Racun” ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ; “acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional, yang menyatakan bahwa : 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”? Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ? Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yng melestarikan kesalahan ini ? Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem
baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound
(Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana “Ons dan Pound (Depdiknas)” ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengantantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi. Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran system timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.
# # # # #
Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing. Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas. Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak / difoto copy dan disebar-luaskan sendiri. Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota anda berada.
Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.
# # # # #
Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila. Ditengah orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila. Memang banyak orang yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang diikuti banyak orang itulah yang pasti dan selalu benar.

LEMBAR PELENGKAP TAKAR – UKUR – TIMBANG MENGIKUTI SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN 1799
Kuantitas Satuan Simbol Keterangan
Panjang meter m Bukan mtr
Luas meter persegi m2
Isi meter kubik m3
Berat gram g Bukan gr
Takaran liter l 1 l = 1.000 cm3 (cc)
Suhu derajad Celcius º C
BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK
Awalan Faktor Pengal Simbol / Singkatan
Contoh Pemakaian
Giga 1.000.000.000 G GHz
mega 1.000.000 M MW
kilo 1000 k km
hecto 100
h ha
deka 10 da dam
deci 0,1 d dm
centi 0,01 c cm
mili 0,001 m ml
micro 0,000.001 μ
μF
dan seterusnya.
Dalam sistem metrik memang dikenal 1 are = 100 m2 khusus untuk ukuran
tanah yang diakui sah secara internasional.
Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik
maupun non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara
internasional.
# # # # #

RANGKUMAN SARAN-SARAN, KRITIK DAN KOMENTAR
1. Banyak orang berpendapat bahwa ONS kita ini tidak ada kaitannya sama
sekali dengan OUNCE.
a. Kalau kita baca kamus-kamus Inggris-Indonesia dan sebaliknya, jelas
bahwa terjemahan “ounce adalah ons” dan “pound adalah pon” begitu pula
sebaliknya dari Indonesia-Inggris. Bahkan ada beberapa kamus yang
menterjemahkan “ounce menjadi ons, berat 100 gram.” Tetapi ada juga yang
menterjemahkan “ons, 28,3 gram”.
Nara sumber : Jumlah : 2 orang
Profesi : Guru dan Dosen Bahasa Inggris.
b. Beberapa guru berpendapat bahwa kata “ons” jelas bukan asli bahasa
Indonesia, karena bahasa Indonesia hanya mengenal 2 konsonan rangkap,
yaitu “ng” dan “ny”. Tidak ada konsonan rangkap “ns”. Contoh : “Helm”
kalau di Indonesiakan menjadi “helem”. Kalau “ons” tidak bisa dijadikan
“ones” tentu karena menyangkut suatu acuan yang harus dilafalkan secara
benar, sama seperti “gram” yang tidak boleh ditulis menjadi “geram”.
Nara sumber : Jumlah : 2 orang
Profesi : Guru Bahasa Indonesia.
c. Beberapa orang lanjut usia yang cukup terpelajar membenarkan bahwa “ons
dan pound” itu bawaan Belanda, bukan asli Indonesia, karena sudah dipakai
sebelum Indonesia merdeka dan diajarkan juga disekolah HIS maupun HCS
(masih jaman penjajahan).
Beberapa diantara mereka ingat bahwa acuan konversi yang diterapkan di
Indonesia tidak sama dengan yang diterapkan di Belanda.
Nara sumber : Jumlah : 7 orang. Usia : 77 s/d. 87 tahun.
Pendidikan terendah : HCS / HIS.
Pendidikan tertinggi : Sarjana
Profesi terakhir : Guru, Kontraktor, Dokter, Pendeta, PN.
2. Acuan internasional yang menyatakan 1 ons = 100 gram , 1 pound = 500
gram jelas-jelas tidak pernah ada. Bahkan Acuan nasional (kalaupun ada
dulu-dulunya) tidak bisa / tidak boleh dipergunakan lagi semenjak
diundangkannya UU no.2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal, yang mencabut
dan membatalkan Ijkordonnantie 1.049 Staatsblad nomor 175.
Nara sumber : Jumlah : 1 orang.
Profesi : tidak dikenal.
3. Penerbit tidak seharusnya dimintai pertanggung-jawaban karena semua
materi kurikulum yang harus dibukukan telah mendapat persetujuan terlebih
dulu dari Dep. Pendidikan.
Nara sumber : Jumlah : 1 orang.
Profesi : Pengusaha.
4. Tidak perlu memperlebar masalah / mendramatisir dengan timbangan versi
depdiknas dan sebagainya. Yang penting bagaimana kesalahan ini bisa segera
diakhiri.
Nara Sumber : Jumlah : 1 orang.
Profesi : tidak dikenal.
5. Terkejut dan syok berat tapi Setuju bahwa kita harus menghentikan
kebiasaan salah selama ini dan membiasakan diri menggunakan Sistem
Internasional yang berlaku. Perlu pengumuman resmi dari pemerintah dan
penyuluhan masyarakat melalui instansi yang berwenang.
Nara sumber : Jumlah : lebih dari 100 orang.
Profesi : Guru, Dosen, Karyawan, Mahasiswa, Dokter.
6. Para guru tidak bisa dipersalahkan karena mereka hanya melaksanakan apa
yang telah menjadi kebijakan nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh
Dep. Pendidikan.
Nara sumber : Jumlah 14 orang.
Profesi : Guru, Ibu Rmh.Tangga,
Karyawan.
7. Di dalam Dep. Pendidikan ada bagian yang khusus melakukan Penelitian,
Pengkajian dan Pengembangan. Kalau ini benar-benar suatu kesalahan, ..
..(hanya geleng-geleng kepala)
Nara sumber : Jumlah : 1 orang
Profesi : Dosen.
8. Bukankah semua pegawai Dir. Metrologi memiliki anak yang juga sekolah
di Indonesia ? Mengapa diam saja ?
Nara sumber : Jumlah : 1 orang.
Profesi : Kep. Sekolah
9. Sejauh pengetahuan saya, hanya Indonesia yang menerapkan konversi 1 ons
= 100 gram. Mungkin karena itulah banyak yang menganggap ons itu khusus
Indonesia. Kita memang dianjurkan untuk mencintai produk-produk Indonesia,
tetapi yang satu ini jangan. Mari dihentikan bersama-sama.
Nara sumber : Jumlah : 1 orang.
Profesi : GM Hotel
10. Bisa-bisa ini produk akal-akalan penjajah (VOC) dulu untuk menipu
raja-raja kita. Beli rempah-rempah di Indonesia 1 ons dapat 100 gram,
tetapi dijual di Eropa 1 ons hanya 28 gram.
Mengapa bisa keterusan sampai sekarang ? Harus dihentikan.
Nara sumber : jumlah : 1 orang.
Profesi : Instalatir.
11. Pantas saja, anak saya selalu frustrasi kalau menghitung berat badan
petinju yang ditayangkan di TV. Selalu tidak cocok dengan hitungannya.
Harus segera dihentikan.
Nara sumber : Jumlah : 1 pasutri
Profesi : Anggota Polri & guru SD.
12. Dep. Pendidikan harus mengeluarkan pernyataan resmi, baik kepada
sekolah maupun masyarakat, agar diketahui secara luas.
“Bahwa pelajaran 1 ons = 100 g. adalah pengetahuan tentang timbangan yang
sifatnya NORMATIF, yang merupakan kebiasaan beberapa daerah di Indonesia.
Karena itu, tidak boleh dijadikan acuan ilmiah, tidak boleh dipakai dalam
transaksi legal, tidak boleh dipakai untuk acuan konversi formal / legal,
misalnya dalam pekerjaan, pembuatan surat-surat resmi dll.”
Nara sumber : Jumlah : 2 orang.
Profesi : Manager Personalia, Manager
Engineering.

Sumber: http://www.sdnmenteng01.com

2 komentar:

Post a Comment