December 1, 2012

Jangan sampai stres gara-gara belajar


Selama seseorang masih hidup tentunya seseorang tersebut masih belajar. Belajar itu bermacam-macam cara. Ada yang belajar dengan membaca, ada yang belajar dengan menlis, dengan melihat, dengan mendengar dan masih banyak lagi cara belajar. Belajar bisa digolongkan menjadi dua yaitu belajar akademik dan belajar non akademik. 

Melihat realita sekarang ini, banyak mahasiswa yang mengalami stres ketika mau ujian. Maka saya disini akan menceritakan bagaimana saya belajar, khususnya belajar masalah akademik. Ketika mau ujian biasanya ada minggu tenang waktu ini saya gunakan untuk refresing, maen-maen yang intinya menghilangkan rasa stress ketika menghadapi ujian. Jadi ketika minggu tenang saya memang benar-benar tenang. Proses belajar saya sebagai berikut: awalnya saya belajar dikit-sedikit taapi kontinu. Lalu ketika mau ujian saya baca ulang materi yang saya punya. Saya berusaha memahami kallimat demi kalimat. Belajar itu tidak perlu menghafal tetapi perlu paham. Setelah saya paham saya baru mulai belajar tentang masalah-masalah yang perlu diselesaikan. 


Saya berusaha untuk memahami bagaimana cara menyelesikan masalah, kalau ada soal begini bagaimana solusinya, kalau ada soal begitu bagaimana solusinya inilah yang saya cari. Ketika mengarjakan soal terkadang saya tidak menyelesaikan permasalahan smpai tuntas karena saya anggap sudah bisa. Kalau saya selesaikan sampai tuntas itu hanya akan membuang waktu. Daripada untuk menuntaskan permasalahan yang sudah bisa lebih baik mencari masalah baru yang perlu diselesaikan. Ketika mengalami kesulitan saya akan berusaha mencari solusi, biasanya saya tanyakan kepada teman yang lebih paham dari saya. Tetapi saya tidak mau belajar bersama teman lain kalau saya belum belajar sendiri. Jadi ketika belajar bersama saya sudah punya modal yang saya pelajari sendiri.

Pernah ketika h-1 sebelum ujian saya belajar sambil maen kartu, dan pernah juga ketika esoknya ujian sorenya saya justru maen dan pulang sampai rumah jam 8 malem. Saya belajar lihat situasi dan kondisi. Ketika esoknya matakuliah yang diujikan susah saya benar-benar serius untuk belajar. Saya belajar dengan santai tapi pasti. Saya tidak mau belajar jadi beban. Ketika sudah mulai agak bingung saya putuskan untuk berhenti belajar. Saya tidak mau stress gara-gara belajar.

Pada suatu ketika saya pernah mengalami rasa malas, ketika mau ujian saya malas untuk belajar. Ketika hal ini terjadi saya mensiasati dengan menebak soal yang kira-kira keluar dalam ujian. Lalu soal tersebut saya pelajari dan ternyata soal tersebut memang benar keluar dalam ujian. Hal ini jangan diconto karena kalau soal yang kita tebak tidak sesuai maka yang akan terjadi adalah benar-benar blank tidak bisa mengerjakan ujian.

Kalau masalah tugas saya akui saya sering nyontek punya teman, tetapi sebelum tugas itu saya kumpulkan saya copy terlebih dahulu untuk belajar dirumah. Pernah terjadi tugas itu dikeluarkan dalam ujian.
Belajar itu sebaiknya tidak usah diperlihatkan kepada orang lain. Jadi seolah-olah kita itu gak pernah belajar tetapi ketika ada suatu soal atau permasalahan kita sanggup menyelesaikannya dengan baik dan benar. Ada temen saya yang tidak perlu saya sebut namanya, dia sering pulang malem dari kampus. Di kampus hanya maen-maen. Tetapi ketika ujian pretasinya lebih baik dibandingkan dengan teman saya yang kerjaannya belajar. Intinya belajar itu bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Kita itu harus bisa merasa, jangan merasa bisa. Kalau kita bisa merasa tentunya kita tau seberapa kemampuan kita. Tetapi kalau kita merasa bisa tentunya kita akan meremehkan hal-hal yang sepele. Inilah yang bisa menimbulkan kemalasan. Karena kita sudah merasa bisa lalu kita tidak mau belajar.

Inilah cerita yang kutulis semoga bermanfaat. Tulisan ini kutulis ketika hujan lebat, saya bingung mau ngapain lalu saya tulis tulisan ini.

1 komentar:

Trio Adhitya said...

thanks for the information..
pleace, visit back to st3telkom.ac.id

Post a Comment