March 17, 2011

Pantai Indrayanti


INDRAYANTI , ya itu nama sebuah pantai yang ada di Yogyakarta, tepatnya Sundak Timur, Tepus, Wonosari, Gunung Kidul. Pantai Indrayanti ini masih tergolong pantai yang baru di yogyakarta ketika saya berkunjung kesana pun belum seramai pantai-pantai disekitarnya seperti pantai SUNDAK, BARON, KRAKAL, KRUKUP atau WEDI OMBO.



Perjalanan menuju Pantai INDRAYANTI jika ditempuh dari yogyakarta kira-kira 2jam. Tapi perjalanan yang jauh itu terbayar dengan keindahan yang ada di pantai INDRAYANTI ini, hamparan pasirnya yang putih bersih, tidak banyak sampah serta batu-batu yang menjulang dengan kokoh adalah salah satu ciri khas dari pantai ini. Keindahan pantai ini juga tidak kalah dengan pantai-pantai yang ada dibali.


Fasilitas yang ada disana antara lain :

  • Pondok Penginapan
  • Kamar Mandi 4
  • Gazebo - Gazebo
  • Pondok Panggung

Menu makanan dan minuman (Food & Beverage):

  • Ayam Goreng/Bakar
  • Ikan Bakar/Goreng
  • Es Kelapa Muda
  • Menu khusus sesuai pesanan -By Order

Di pantai ini juga anda bisa bermain jetsky dan di pandu oleh orang-orang yang profesional. Jadi untuk anda yang ingin mencari tempat wisata yang baru tidak ada salahnya anda berkunjung ke PANTAI INDRAYANTI ini dan menikmati keindahannya.


sumber: http://89trip.blogspot.com/2010/07/pantai-indrayanti.html

Gua Pindul

Gunungkidul Terletak sekitar 7 km arah utara Kota Wonosari, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul menyimpan potensi wisata yang menarik. Beberapa potensi wisata tersebut antara lain Gua Pindul, Gua Gelatik, Monumen Sudirman, Situs Sokoliman, Banyumoto, serta areal pemancingan. Namun, hingga saat ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk mengembangkan obyek wisata tersebut.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bejiharjo, Subagyo, kepada Jogjatrip.com pada Jumat (8/10). Lebih lanjut Subagyo menjelaskan bahwa obyek wisata yang ada di Desa Bejiharjo, khususnya di Dusun Gelaran, belum tergarap dengan masimal karenaketiadaan dana untuk membenahi kawasan tersebut. Akibatnya, wisatawan pun belum banyak mengetahui potensi wisata yang ada di daerah ini.

“Sebenarnya kami ingin mengembangkan keseluruhan potensi wisata yang ada supaya layak dikunjungi. Namun, berhubung belum ada dana bantuan, warga masih terfokus pada pembenahan Gua Pindul yang bisa digunakan untuk cavetubing,” ujarnya.

Gua Pindul sendiri merupakan gua horizontal sepanjang 300 meter, lebar 5 meter, dengan sungai bawah tanah yang mengalir di dalamnya. Gua yang terhubung dengan bendungan Kali Banyumoto ini, memiliki aliran air yang sangat tenang, sehingga cocok digunakan untuk cavetubing segala usia. Tak jauh dari Gua Pindul, terdapat Gua Gelatik yang merupakan gua kering. Gua ini masih belum tersentuh karena jalan masuknya berupa celah yang sangat kecil dan hanya bisa dimasuki dengan cara merangkak. Namun, di dalam gua tersebut terdapat ruangan yang cukup luas.

“Karakteristik Gua Pindul ini berbeda dengan Gua Kalisuci, di Gua Pindul aliran airnya lebih tenang dan aksesnya lebih mudah. Aman untuk dimasuki siapa saja, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Kami sendiri berharap Gua Pindul dapat menjadi salah satu alternatif wisata Gunungkidul selain pantai, karena memang berpotensi untuk dikembangkan,” ujar Lutfi Setya Nugroho, SE, salah seorang Staf Bidang Pemasaran Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gunungkidul yang turut mendampingiJogjatrip.com saat memasuki Gua Pindul.

Sujarwono, SH, Staf Pemasaran Dispar Gunungkidul lainnya, mengatakan saat ini memang belum ada dana stimulan dari pemerintah daerah untuk pegembangan potensi wisata di Desa Bejiharjo. “Bantuan yang Dinas Pariwisata berikan hanya berupa promosi, pemasaran, dan pendampingan. Promosi yang baru saja dilakukan yaitu mengadakan famtrip yang salah satu lokasinya adalah Desa Bejiharjo,” terang Sujarwono saat ditemui Jogjatrip.com di kantornya.

Masyarakat Desa Bejiharjo sendiri berharap supaya potensi wisata yang ada di desa mereka dapat menjadi obyek wisata terpadu. “Sebab selain obyek wisata alam dan situs bersejarah, Desa Bejiharjo juga memiliki aktivitas seni budaya yang rutin dilakukan oleh warga masyarakat. Semoga hal itu bisa menjadi magnet tersendiri untuk menarik wisatawan,” harap Subagyo. Guna mewujudkan harapan tersebut, hal-hal yang sedang dilakukan oleh Pokdarwis Desa Wisata Bejiharjo saat ini adalah penataan lingkungan, kebersihan, dan mulai menyediakan paket wisata.


Sumber: www.jogjatrip.com


Wisata kuliner buah-buahan di Gunungkidul

warung_buah_2warung_buah_6

Gunungkidul daerah yang berbukit-bukit dan berpegunungan batu putih dengan jalannya yang berkelok -kelok ternyata juga menyimpan sumber daya alam yang melimpah.Salah satunya adalah buah-buahan yang bertebaran dipelosok daerah.
Dalam pemasarannyapun para petani memasarkan untuk konsumsi daerahnya sendiri maupun untuk masyarakat luar Gunungkidul lewat para pedagang yang ada di Gunungkidul. Ada juga pedagang luar daerah yang khusus kulakan buah di pasar-pasar Gunungkidul. Penjualan cara lain adalah dijual oleh para pedagang kios-kios di pinggir jalan propisi yang menghubungkan Wonosari dan Yogyakarta, tepatnya disekitar Kerjan Patuk Gunungkidul. Didaerah ini akan ditemuhi barisan kios yang menjual buah-buahan dari Gunungkidul seperti Mangga, sawo, rambutan, durian, pepaya, jambu kluthuk ,petai dan sebagainya.Ada juga buah-buahan yang didatangkan dari luar Gunungkidul seperti apel, jeruk, apokat dan sebagainya.
langgeran_2ngobaran_20
Bila anda para pembaca dari luar Gunungkidul bisa mampir sejenak di lokasi ini untuk membeli oleh-oleh khas daerah Gunungkidul maupun buah-buahan dari Gunungkidul.Sambil istirahat sejenak para wisatawan maupun masyarakat yang akan membeli bisa menawar buah-buahan maupun makanan khas Gunungkidul. Lokasi kios -kios tersebut berada di kanan kiri jalan Jogja Wonosari, kalau dari wonosari kira-kira 1 km dari REST AREA.
Demikian sekilas Wisata kuliner khususnya aneka buah-buahan dan makanan khas Gunungkidul di lokasi Kerjan Pathuk Gunugkidul Yogyakarta, semoga bermanfaat bagi para pembaca yang akan berkunjung ke Gunungkidul maupun warga Gunungkidul yang merantau dan kebetulan akan pulang ke Gunungkidul.

March 11, 2011

Mahasiswa asal Gunungkidul Temukan Vaksin AI dari Mahkota Dewa

Kita harus bangga menjadi warga Gunungkidul, karena sebetulnya di Gunungkidul banyak orang-orang yang cerdas. Salah satunya yaitu Artina Prastiwi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Artina Prastiwi asli orang Gunungkidul baliau alumnus SMA 1 Wonosari yang mampu menemukan vaksin AI dari mahkota dewa.

Berkat inovasinya memanfaatkan ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) untuk menghambat virus flu burung/Avian Influensa (AI) H5N1, Artina Prastiwi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM, terpilih menjadi juara pertama dalam kompetisi Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI) Paper Challenge (MPC) 2011 yang dilangsungkan 29 Januari silam.

Artina Prastiwi, mahasiswa angkatan 2007 ini meraih juara I setelah mengajukan serangkaian penelitian yang tertuang dalam paper ilmiah berjudul “Uji Aktivitas Antiviral Infus Ekstrak Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa) In Ovo dalam Penghambatan Replikasi Virus H5n1 Sebagai Vaksin Organik Pioner di Asia”. Ia berhasil menyisihkan 96 paper lain dari seluruh Indonesia.

Sebagai calon dokter hewan, Artina mengaku gelisah dengan fenomena penyebaran virus AI di Indonesia yang telah memakan cukup banyak korban. Ia memahami betul orang yang bersinggungan langsung dengan unggas akan rentan terserang virus ini. Ia cemas terhadap nasib para peternak yang tidak saja mengalami kerugian materi akibat serangan virus mematikan ini, tetapi juga keselamatan jiwa mereka yang terancam. Meskipun peternak mengetahui risiko yang timbul, mereka jarang memvaksin untuk menangkal virus AI kepada unggasnya. “Banyak peternak yang tidak memvaksin unggasnya karena harga vaksin kimia AI di pasaran cukup mahal. Harganya dipatok 200 ribu rupiah untuk 100 dosis,” ujarnya.

Berawal dari kenyataan itu, gadis berjilbab ini berupaya mencari solusi untuk mengatasi persoalan yang meresahkan tersebut. Ia memanfaatkan buah mahkota dewa, potensi lokal Indonesia, yang secara ilmiah telah terbukti mampu meningkatkan daya tahan tubuh sebagai antivirus AI. Kandungan saponin dalam buah mahkota dewa bermanfaat selain dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan vitalitas juga bisa dimanfaatkan sebagai anti bakteri dan anti virus.

Untuk mendapatkan senyawa saponin, Artina mengekstrak buah mahkota dewa melalui penyulingan. Cara membuat antivirus dari ekstrak mahkota dewa ini diawali dengan penimbangan sesuai dosis yang dibutuhkan. Untuk dosis 10 ml, diperlukan buah mahkota dewa kering 100 gram per 100 ml air atau kelipatannya, yakni 100 gram per 1000 ml. “Selanjutnya, dilakukan penyulingan untuk mendapat ekstrak,” terangnya kepada wartawan, Kamis (3/3), di Ruang Fortakgama UGM.

Setelah mendapat ekstrak, Artina melakukan pengujian kadar saponin 10 ml di LPPT UGM. Menurutnya, ekstrak mahkota dewa harus mengandung kadar saponin 10 persen. Hasil saponin yang diperoleh inilah yang digunakan sebagai bahan baku, yakni sebagai pelarut suspense antigen virus AI. Lalu yang digunakan sebagai vaksin adalah ekstrak mahkota dewa 0,2 ml.

Pada mulanya, dituturkan Artina, uji coba dilakukan pada 30 butir telur ayam berembrio. Dari hasil uji tersebut diketahui telur yang diberi virus AI dan diberi tambahan saponin 10 persen dari ekstrak buah mahkota dewa 0,2 ml setelah diinkubasi selama 35 hari diketahui embrio tidak mati, sehat, dan tanpa bekas luka. Sementara itu, telur yang disuntik dosis yang lebih tinggi 15 persen dan 20 persen, ternyata semua embrio mati dengan bentuk perdarahan seluruh tubuh, kekerdilan, dan cairan alantois keruh. “Sepuluh persen merupakan hasil terbaik untuk menghambat virus flu burung. Ini membuktikan bahwa kadar saponin yang digunakan harus tepat sebab bisa menimbulkan keracunan jika diberikan dalam dosis besar,” jelasnya.

Setelah teruji aman pada telur, putri pasangan Sugita dan Wartinah ini mengujikan pada ayam berusia kurang dari 21 hari dan hasilnya cukup menggembirakan. Ayam yang telah divaksin tidak satu pun mengalami kematian.

Dikatakan gadis kelahiran Gunung Kidul, 26 Januari 1989 ini, vaksin yang dikembangkannya terbukti mampu menghambat perkembangan virus AI hingga 87 persen. Selain telah teruji dalam skala laboratorium mampu menghambat virus AI, vaksin ini juga lebih murah dibandingkan dengan vaksin kimia yang dijual di pasaran. Vaksin AI di pasaran biasanya dibandrol 200 ribu rupiah per 100 dosisnya. Sementara itu, vaksin buatannya 75 ribu rupiah per 100 dosis. Meskipun terbilang efektif dan murah, vaksin ini belum dipasarkan secara massal. “Masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti hasilnya,” ungkap alumnus SMA 1 Wonosari ini.

Hasil penelitian ini menurut rencana juga akan dipresentasikan dalam seminar internasional yang digelar AMSTECS di Jepang pada 19-20 Maret mendatang.

Sumber: http:// www.ugm.ac.id

February 12, 2011

SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA VI

Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA) FMIPA UGM akan mengadakan Seminar Nasional Matematika dengan tema Open Your Mind Through Mathematics Applications. Tema ini dipilih karena matematika yang merupakan basic science perlu untuk dikaji dan dikenalkan sejak dini. Namun banyak orang yang beranggapan bahwa matematika itu sangat sulit dan aplikasi matematika di kehidupan sehari-hari sangat jarang ditemukan. Hal inilah yang mendasari orang ragu untuk mendalami matematika. Dengan diadakannya acara ini, HIMATIKA FMIPA UGM ingin berusaha membuktikan bahwa
matematika tidak sulit untuk dipelajari dan aplikasinya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seminar Nasional Matematika ini merupakan Seminar Nasional Matematika yang ke-6 yang diselenggarakan oleh HIMATIKA FMIPA UGM. Maksud dan tujuan diadakannya acara ini adalah:
  1. Memasyarakatkan matematika sebagai salah satu ilmu dasar yang tidak hanya dipelajari secara teoritis, tetapi juga mempunyai peran besar dalam berbagai bidang
  2. Mengupas aplikasi matematika dalam berbagai aspek kehidupan.
  3. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap ilmu-ilmu dasar khususnya ilmu matematika
Kegiatan seminar ini akan berlangsung pada hari Sabtu tanggal 26 Februari 2011 selama sehari di Gedung Auditorium FMIPA Sekip Utara. Seminar ini akan menghadirkan tiga pembicara yang bertaraf nasional yaitu Prof. Dr. Widodo, M.S.; Dr. Kuntjoro Adji Sidarto; Dr. Bagus Santoso, M.Soc.Sc. yang akan menyampaikan materi tentang aplikasi matematika di bidang lalu lintas, penelitian pengembangan sumber daya energi, dan ekonomi serta sesi presentasi makalah dari beberapa peserta yang telah dipilih sebelumnya melalui tahap seleksi.

Informasi lebih lanjut bisa dilihat di http://semnastika.fmipa.ugm.ac.id